Cermati Invest Weekly Update 29 Juni 2026
Ulasan Pasar
| INDONESIA | W (-/+) % | HARGA |
| IHSG | -1.72% | 5,896.13 |
| ISSI | -1.69% | 137.86 |
| IDX30 | -0.95% | 341.48 |
| FTSE Indonesia | -1.15% | 2,157.75 |
| MSCI Indonesia | -1.30% | 4,224.50 |
| Dolar Amerika | 0.48% | 17,861 |
Provided by Cermati Invest, last update 29 June 2026
IHSG & Saham Pekan Ini
Indeks, menutup pekan ini di level 5.896,13, mengalami koreksi sebesar (-)1.72% dalam sepekan terakhir. Meskipun terjadi pelemahan mingguan, indeks saham domestik ini masih bertahan di atas level psikologisnya setelah sempat menyentuh titik terendah 5.317,9 pada awal bulan (8 Juni 2026). Secara tahun berjalan (Year-to-Date/YtD), IHSG masih mencatatkan rapor merah di kisaran (–)30.2%. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) pekan ini bergerak dinamis di kisaran Rp10.510 triliun, seiring dengan aksi ambil untung (profit taking) investor asing yang memanfaatkan momentum pasca-rebound pekan lalu.
Sentimen pasar pekan ini merupakan kelanjutan respons dari hasil akhir evaluasi lanjutan MSCI pada 23–24 Juni 2026. Setelah kepastian Indonesia aman di kategori Emerging Market, pasar kini mulai mencerna kejelasan terkait kebijakan index freeze dan transparansi kepemilikan saham. Sikap investor yang sempat wait-and-see kini bergeser menjadi penyesuaian portofolio (rebalancing), membuat pergerakan indeks cenderung fluktuatif namun tetap terukur. Hingga penutupan kuartal II ini, IHSG terbukti bergerak kokoh di dalam rentang proyeksi akhir kuartal pada area 5.882—6.705.
Saham, memasuki akhir Juni, rotasi sektor menjadi penggerak utama di lantai bursa. Sektor-sektor yang sebelumnya memimpin rebound—seperti Industri, Bahan Baku, Energi, dan Keuangan—mulai mengalami konsolidasi sehat. Di sisi lain, sektor Teknologi serta Transportasi & Logistik masih menunjukkan daya dorong yang menarik akibat pemanfaatan momentum realisasi kinerja laporan keuangan kuartal kedua.
Pergerakan Rupiah
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) ditutup melemah tipis (+)0.48% di level Rp17.860,60 per dolar AS pada akhir pekan ini. Langkah agresif Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan ke level 5.75% terbukti menjadi bantalan kuat (buffer) yang menahan mata uang rupiah dari depresiasi yang lebih dalam.
| KOMODITAS | W (-/+) % | HARGA |
| Emas | 1.55% | 4,088.60 |
| Perak | 2.25% | 59.05 |
| Platina | -0.45% | 1,659.70 |
| Nikel | -0.92% | 17,388.50 |
| Timah | 1.10% | 55,768 |
| Alumunium | -1.20% | 3,360.00 |
| Minyak Mentah | -2.10% | 69.23 |
| Minyak Sawit | -0.65% | 4,451 |
| Gas | -1.88% | 3.14 |
| Batu Bara | -0.70% | 143.00 |
| Tembaga | -0.35% | 13,549.00 |
Provided by Cermati Invest, last update 29 June 2026
Emas & Kripto
Minyak Dunia, harga minyak mentah dunia kembali mencatatkan penurunan tajam hingga akhir pekan ini. Sejak puncaknya di bulan Maret 2026, menariknya, meskipun harga minyak mentah dunia melandai dan nilai tukar rupiah relatif terjaga oleh BI, harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri justru bersiap menghadapi penyesuaian naik. Sentimen utama dari domestik tertuju pada rencana pemerintah yang akan resmi merilis varian BBM baru bernama B50 per 1 Juli 2026.
Emas, di pasar logam mulia, harga spot emas dunia bergerak di level US$4.088,60 per troy ounce pada akhir pekan ini. Emas dunia sempat mencoba bangkit ke area US$4.197–US$4.211 per troy ounce, didorong oleh aksi serok pasar setelah sempat jatuh ke level terendah US$4.023 pada pekan sebelumnya. Namun, laju penguatan ini kembali tertahan oleh sikap hawkish bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang memicu ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan. Untuk jangka pendek, pergerakan emas dunia diproyeksikan berkonsolidasi stabil di rentang US$ 4.150–US$4.400/oz. Sejalan dengan volatilitas global, harga emas Antam di pasar domestik bergerak stabil di kisaran Rp2.668.000 per gram, menunjukkan sinyal pemulihan awal setelah mengalami koreksi yang cukup dalam sepanjang Juni 2026.
Kripto,
| KRIPTO | W (-/+) % | HARGA |
| Bitcoin | -2.01% | 59,782 |
| Ethereum | -1.85% | 1,574.60 |
| Solana | 0.95% | 68.07 |
Provided by Cermati Invest, last update 29 June 2026
Pasar aset kripto mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi seiring dengan tekanan jual dari investor institusi yang mulai mereda. Walaupun struktur pasar secara keseluruhan masih berada dalam fase pemulihan yang membuat tingkat volatilitas diperkirakan tetap tinggi, angin segar datang dari pos instrumen terstruktur. Setelah mengalami hantaman gelombang outflow (arus modal keluar) yang cukup besar sepanjang bulan Mei, ETF Bitcoin spot AS akhirnya berbalik arah mencatatkan inflow (arus modal masuk) positif. Pergeseran ini mengindikasikan kembalinya minat akumulasi dari kalangan institusi global.
| REGIONAL | W (-/+) % | HARGA |
| Dow Jones | 0.14% | 51,920.62 |
| S&P 500 | -0.05% | 7,354.02 |
| FTSE 100 | 0.40% | 10,404.70 |
| DAX | -0.22% | 24,930.85 |
| Nikkei 225 | -3.70% | 68,613.80 |
| Hang Seng | -1.12% | 23,656.68 |
| CSI 300 | 1.20% | 5,000.90 |
| KOSPI | -4.52% | 8,643.25 |
Provided by Cermati Invest, last update 29 June 2026
Reksa Dana
Memasuki akhir Juni 2026, reksa dana saham domestik mulai menunjukkan sinyal rebound yang sehat, menjadikannya momentum tepat bagi investor untuk mulai mencicil investasi pada produk berbasis rupiah. Keunggulan utama dari reksa dana rupiah di platform Cermati Invest adalah aksesibilitasnya yang sangat inklusif, di mana investor dapat mulai membangun portofolio dengan modal super minim mulai dari Rp10.000 saja.
Untuk edisi bulan ini, beberapa produk berbasis rupiah dengan performa terbaik yang layak dipertimbangkan adalah Henan Ultima Money Market (Reksa Dana Pasar Uang) untuk stabilitas likuiditas, UOBAM Inovasi Obligasi Nasional (Reksa Dana Pendapatan Tetap) untuk imbal hasil moderat, serta SAM Mutiara Nusantara Nusa Campuran Kelas A (Reksa Dana Campuran) dan BNI AM IDX Pefindo Prime Bank Kelas R1 (Reksa Dana Saham) guna menangkap peluang pembalikan arah pasar. Tetap sesuaikan pilihan produk ini dengan profil risiko dan tujuan finansial Anda, karena kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan.
Bingung cari investasi reksa dana yang aman dan menguntungkan? Cermati Invest solusinya!
Surat Berharga
Peta kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN) mengalami pergeseran struktural, di mana porsi asing menyusut tajam dari 40% (pra-pandemi) menjadi hanya sekitar 13.9%, sementara porsi Bank Indonesia (BI) melesat hampir 28%. Penurunan ini dipicu oleh indeks dolar (DXY) yang menembus level 100, yang direspons BI dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin sepanjang tahun 2026. Akibatnya, kebijakan moneter ketat kini menjadi risiko dominan bagi pasar obligasi domestik. Guna menyiasati tingginya biaya dana global dan mendiversifikasi sumber pembiayaan, pemerintah berencana menerbitkan Panda Bonds—obligasi negara berdenominasi Yuan (RMB) yang ditargetkan khusus untuk investor di pasar Tiongkok.
Sentimen Domestik vs Global: Likuiditas Perbankan Melimpah, Volatilitas Pasar Tetap Tinggi
Pasar keuangan domestik ditutup bervariasi pada akhir pekan lalu, di mana IHSG mengalami koreksi sehat ke level 5.896,13, sementara rupiah berhasil bertahan stabil di kisaran Rp17.860 per dolar AS berkat intervensi Bank Indonesia. Memasuki pekan ini, pelaku pasar bersiap menghadapi kalender ekonomi yang sangat padat dari dalam dan luar negeri, yang akan menentukan arah pergerakan aset portofolio ke depan. Dari dalam negeri, perhatian utama tertuju pada rilis data inflasi Juni 2026 oleh BPS. Konsensus memproyeksikan inflasi tahunan akan merangkak naik tipis ke level 3.1% (vs 3.08% pada Mei), didorong oleh volatilitas harga pangan domestik. Selain itu, pasar juga mengantisipasi rilis data neraca perdagangan Mei 2026 pascapenurunan tajam surplus di bulan April yang hanya menyisakan US$90 juta akibat lonjakan impor.
Di sisi likuiditas, sentimen positif datang dari rencana pemerintah yang akan menempatkan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) hingga Rp400 triliun di bank-bank Himbara. Langkah strategis ini diproyeksikan mampu mendongkrak pertumbuhan kredit nasional ke target 14%–15% pada tahun 2026, sekaligus menjadi bantalan bagi emiten big banks untuk meredam pembengkakan biaya dana (cost of fund) di tengah tren suku bunga tinggi. Secara keseluruhan, volatilitas pasar diperkirakan masih akan tetap tinggi dalam jangka pendek. Menghadapi sentimen yang beragam ini, pelaku pasar diharapkan tetap bijak dalam mengelola portofolio, memantau rilis data ekonomi secara berkala, dan selalu menyesuaikan setiap keputusan investasi dengan profil risiko serta tujuan keuangan masing-masing.
Performa IHSG (JKSE),EMAS (XAU/USD),BITCOIN (BTC/USD) & Dolar Amerika (XAU/USD) Tahun 2026
Reksa Dana
| Jenis Reksa Dana | Nama Reksa Dana | NAV | 1Bln | 3Bln | YTD | 1Th | 3Th | AUM |
| Pasar Uang | Henan Ultima Money Market | 1,736.20 | 0.43% | 1.28% | 2.22% | 5.28% | 16.06% | 1.40 T |
| Pendapatan Tetap | UOBAM Inovasi Obligasi Nasional | 1,148.55 | 0.83% | 4.02% | 4.24% | 9.02% | 21.72% | 94.29 M |
| Saham | Cipta Saham Unggulan | 3,173.94 | -4.58% | -0.76% | 1.96% | 1.66% | 10.35% | 30.26 M |
| Saham Syariah | Cipta Saham Unggulan Syariah | 2,489.07 | -0.54% | -2.71% | -0.22% | -0.20% | 9.45% | 12.30 M |
| Campuran | SAM Mutiara Nusantara Nusa Campuran Kelas A | 1,408.55 | 2.21% | -6.82% | -16.88% | -12.25% | -23.76% | 10.34 M |
Provided by Cermati Invest, last update 29 June 2026
Surat Utang/Obligasi
| NAMA OBLIGASI | ISIN | MATA UANG | KUPON | JATUH TEMPO | HARGA BELI | HARGA JUAL | YIELD | RATING |
| FR0103 | IDG000024506 | IDR | 6.75% | 15-Jul-35 | 97.5 | 96.5 | 7.13% | BBB |
| FR0088 | IDG000018201 | IDR | 6.25% | 15-Jun-36 | 94 | 93 | 7.10% | BBB |
| PBS005 | IDP000001505 | IDR | 6.75% | 15-Apr-43 | 96.5 | 95.5 | 7.11% | BBB |
| MBMA01BCN3 | IDA0001638B6 | IDR | 8.25% | 9-Dec-30 | 101 | 100 | 8.00% | idA |
| SMOPPM02BCN3 | IDJ0000407B8 | IDR | 8.50% | 4-Nov-30 | 101.5 | 100.5 | 8.12% | idA |
Provided by Cermati Invest, last update 29 June 2026
Kalender Ekonomi
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk pekan ini:
- Rilis Data Inflasi PCE (Personal Consumption Expenditures) AS: Indikator inflasi terfavorit The Fed ini menjadi fokus utama global pekan ini karena akan menentukan apakah bank sentral AS akan tetap mempertahankan sikap hawkish atau mulai melonggarkan suku bunga di semester II.
- Pengumuman Data Inflasi Domestik Juni 2026 oleh BPS: Badan Pusat Statistik dijadwalkan merilis data inflasi terbaru pekan ini, di mana konsensus pasar memperkirakan ada kenaikan tipis ke level 3.1% akibat fluktuasi harga bahan pangan.
- Rilis Neraca Perdagangan Indonesia: Pasar mengantisipasi rilis data performa ekspor-impor terbaru setelah pada periode sebelumnya surplus Indonesia menyusut tajam menjadi US$90 juta akibat lonjakan impor.
- Laporan Perkembangan Uang Beredar (M2) Bank Indonesia: Data makro domestik yang dirilis pekan ini untuk memberikan gambaran riil mengenai ketersediaan likuiditas di perekonomian serta laju aktivitas kredit nasional.
- Konferensi Pers Stimulus Ekonomi Semester II-2026 (Kemenko Perekonomian): Agenda strategis pemerintah di awal semester baru yang ditunggu investor terkait detail teknis insentif fiskal dan realisasi penempatan dana SAL Rp400 triliun untuk perbankan.
Source: BI, CNBC Indonesia, Bloomberg, Investing, Trading Economics, KSEI, Cermati, Artha Investa Teknologi (AIT), Stockwatch.id.
Disclaimer:
Dokumen ini dibuat hanya untuk memberikan informasi. Isi dokumen ini tidak boleh ditafsirkan sebagai suatu bentuk penawaran untuk membeli/menjual/dijadikan dasar dari atau yang dapat dijadikan pedoman sehubungan dengan suatu perjanjian atau komitmen apa pun atau suatu nasehat investasi.
Baca Juga Cermati Invest Weekly Update Sebelumnya: