Cermati Invest Weekly Update 8 Juni 2026
Ulasan Pasar
| INDONESIA | W (-/+) % | HARGA |
| IHSG | -8.69% | 5,594.77 |
| ISSI | -10.93% | 133.03 |
| IDX30 | -9.07% | 316.03 |
| FTSE Indonesia | -8.23% | 2,079.49 |
| MSCI Indonesia | -9.47% | 3,851.50 |
| Dolar Amerika | 0.81% | 18,015 |
Provided by Cermati Invest, last update 5 June 2026
IHSG & Saham Pekan Ini
Indeks, bursa saham Indonesia pada 5 Juni 2026 masih dalam tekanan besar, IHSG tutup pada level 5.594,111 sehingga koreksi sepanjang 2026 menjadi (–)35.30%, sangat ekstrem. Asing net sell Rp13,78 triliun sepekan pertama Juni 2026, semua sektor merah, tekanan terbesar dari saham perbankan (BBCA, BBRI). Support kritis IHSG selanjutnya adalah 5.395,71 yang merupakan support gap tahun 2020, jika jebol, potensi turun lebih dalam ke support 5.050,16. Sentimen negatif global & pelemahan rupiah masih dominan. Sektor Energi, Properti, Infrastruktur dan Basic-Industry turun paling dalam tahun ini.
Saham, tahun 2026 banyak emiten berkapitalisasi besar yang juga menjadi salah satu aset portofolio mayoritas reksa dana Indonesia terjun bebas, performa sahamnya ambruk lebih dari 40% di semester 1 ini, seperti: TPIA, CUAN, PTRO, BREN, CBDK, BUMI, IMPC, DEWA, BRPT, SSMS, BRMS, RAJA, AMMN, dan INTP. Emiten lain terlihat lebih rendah koreksinya tahun ini, karena sudah turun duluan sejak tahun sebelumnya (2024 atau 2025) seperti sektor Perbankan. Banyak emiten yang terdepresiasi, undervalued, dan mulai berada di bawah nilai intrinsiknya, bahkan beberapa yang berkapitalisasi besar memiliki PBV di bawah 2. Terlihat murah, tetapi sebaiknya tunggu ekonomi Indonesia stabil untuk masuk.
Pergerakan Rupiah
Penutupan pekan lalu sekitar Rp18.095 per USD melemah 7.9% sejak awal tahun 2026. Dalam jangka pendek, pergerakan diperkirakan berada di kisaran Rp17.795–Rp18.250 per USD. Fokus utama Bank Indonesia saat ini adalah menjaga stabilitas nilai tukar melalui kebijakan suku bunga dan intervensi pasar. Risiko pelemahan menuju Rp19.610 per USD masih terbuka apabila arus modal keluar berlanjut. Namun, peluang penguatan kembali ke bawah Rp18.000 tetap ada jika stabilitas eksternal membaik.
| KOMODITAS | W (-/+) % | HARGA |
| Emas | -4.63% | 4,329.33 |
| Perak | -8.93% | 69.10 |
| Platina | -7.30% | 1,780.30 |
| Nikel | -2.44% | 18,505.88 |
| Timah | 0.18% | 55,394 |
| Alumunium | -2.08% | 3,598.50 |
| Minyak Mentah | 3.64% | 90.54 |
| Minyak Sawit | - | 4,480 |
| Gas | -1.85% | 3.23 |
| Batu Bara | 13.33% | 148.75 |
| Tembaga | -0.80% | 13,507.63 |
Provided by Cermati Invest, last update 5 June 2026
Emas & Kripto
Minyak Dunia, fokus pasar minyak sekarang bukan lagi hanya soal pasokan, tetapi juga permintaan global. Beberapa laporan menunjukkan permintaan minyak global melemah, khususnya dari Tiongkok dan Eropa. Namun, risiko geopolitik Timur Tengah masih menjaga harga tetap tinggi. Sejak awal tahun 2026, Brent naik 51.01%, WTI naik 54.63%. Pekan ini harga Brent antara: US$86–96 per barrels, WTI antara US$84–94 per barrels.
Emas, setelah mencetak rekor tertinggi pada Januari 2026, harga emas global mengalami koreksi dan kini bergerak di kisaran US$4.099–4.402 per troy ounce. Kinerja emas dunia sejak awal tahun relatif datar, hanya sekitar (+)0.12% YTD, dengan risiko penurunan lebih lanjut ke US$3.478 per troy ounce jika suku bunga global tetap tinggi. Namun, bagi investor Indonesia, pelemahan rupiah membuat emas domestik masih mencatat kenaikan sekitar 8.16% YTD. Pekan ini harganya berkisar Rp2.410.000—Rp2.620.000 per gram.
Tunggu apa lagi? Beli emas digital di Cermati dan selalu gunakan promonya. Selain itu, kini emas digital Cermati sudah dapat dicetak fisiknya.
Kripto,
| KRIPTO | W (-/+) % | HARGA |
| Bitcoin | -15.70% | 62,068 |
| Ethereum | -18.67% | 1,629.43 |
| Solana | -21.18% | 64.90 |
Provided by Cermati Invest, last update 5 June 2026
Bitcoin (BTC), kondisi teknikal dan fundamental Bitcoin masih belum ideal. Tekanan berasal dari tingginya suku bunga global yang menyebabkan investor mengurangi aset berisiko dan penguatan dolar AS. Pekan lalu, Bitcoin ambles (-)15.98% ke US$61.713, potensi naik menuju US$64.677 dapat saja terjadi, tetapi arah harga ke depannya masih akan turun di bawah US$53.438 menuju US$49.351. BTC bearish, walau dari all time high-nya sudah terpangkas 50%, tetapi sepanjang 2026 hanya terkoreksi (-)29.56%.
Ethereum (ETH), seperti halnya Bitcoin, Ethereum juga bearish dan masih lebih lemah dibanding Bitcoin, sepanjang 2026 performanya (–)45.49%. Faktor yang membebani antara lain sentimen risk-off global dan aktivitas DeFi yang melambat sehingga investor lebih memilih Bitcoin sebagai aset utama. Pergerakan Ethereum akan segera tembus ke bawah US$1.385 menuju US$1.203. Potensi pembalikan arah naik menuju US$1.754 dapat terjadi, tetapi rebound yang kuat belum terlihat.
| REGIONAL | W (-/+) % | HARGA |
| Dow Jones | -0.32% | 50,866.78 |
| S&P 500 | -2.59% | 7,383.74 |
| FTSE 100 | -0.40% | 10,368.05 |
| DAX | -1.38% | 24,759.05 |
| Nikkei 225 | 0.42% | 66,588.12 |
| Hang Seng | -0.88% | 24,961.95 |
| CSI 300 | -1.54% | 4,816.92 |
| KOSPI | -3.72% | 8,160.59 |
Provided by Cermati Invest, last update 5 June 2026
Reksa Dana
Reksa dana saham domestik masih menghadapi tantangan akibat lemahnya IHSG. Sebaliknya, pelemahan rupiah dan kinerja pasar global yang lebih baik membuat reksa dana syariah berbasis dolar AS, baik saham maupun pendapatan tetap, menjadi alternatif yang lebih menarik untuk diversifikasi. Beberapa reksa dana syariah dominasi dolar yang dapat dilirik antara lain:
Reksa Dana Mata Uang Dolar Amerika: Eastspring Syariah Equity Islamic Asia Pacific USD Kelas A, Batavia Technology Sharia Equity USD, Eastspring Syariah Greater China Equity USD Kelas A, BRI G20 Sharia Equity Fund Dollar, Batavia Global ESG Sharia Equity USD, STAR Global Sharia Equity USD.
Reksa Dana Pendapatan Tetap: STAR Fixed Income Dollar.
Kinerja reksa dana di masa lalu bukan jaminan kinerja reksa dana di masa depan, jadi pilih yang terbaik dan sesuai dengan karakteristik atau tujuan investasi Anda.
Surat Berharga
Surat utang pemerintah menjadi salah satu aset yang relatif menarik di tengah volatilitas pasar. Yield SUN 10 tahun berada di kisaran 6.7–6.9%, sementara fenomena yield jangka pendek yang lebih tinggi dibanding jangka panjang menunjukkan meningkatnya premi risiko yang diminta investor terhadap Indonesia. Pemerintah juga dijadwalkan menawarkan ORI030 pada 6–30 Juli 2026, yang berpotensi menjadi pilihan bagi investor yang mencari pendapatan tetap dengan risiko relatif lebih terukur.
Sentimen Fiskal dan Geopolitik Menjadi Sorotan Utama Pasar
Pasar keuangan domestik kembali tertekan pada pekan lalu. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun sekitar 4%, sementara yield Surat Berharga Negara (SBN) meningkat seiring kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal Indonesia. Pemerintah melaporkan defisit APBN hingga akhir Mei 2026 sebesar Rp180,4 triliun atau 0.70% terhadap PDB, naik dari Rp164,4 triliun atau 0.64% terhadap PDB pada akhir April. Meski Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa posisi tersebut masih sesuai target APBN 2026, isu fiskal tetap menjadi perhatian pasar di tengah risiko kenaikan harga energi akibat memanasnya konflik geopolitik.
Pelaku pasar juga menantikan data cadangan devisa Indonesia per Mei 2026. Sebelumnya, cadangan devisa turun menjadi US$146,2 miliar pada April, dipengaruhi oleh pembayaran kewajiban pemerintah dan intervensi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Dari eksternal, ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah Iran meluncurkan rudal ke Israel pada Minggu (7/6), memicu kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan dan potensi gangguan terhadap perekonomian global. Selain itu, pasar juga menunggu rilis data inflasi Amerika Serikat yang akan menjadi salah satu pertimbangan utama The Fed dalam menentukan arah suku bunga. Dengan masih tingginya ketidakpastian, baik dari dalam maupun luar negeri, pergerakan pasar keuangan diperkirakan akan tetap volatil dalam jangka pendek sehingga investor perlu mencermati perkembangan data ekonomi dan dinamika geopolitik global.
Performa IHSG (JKSE),EMAS (XAU/USD),BITCOIN (BTC/USD) & Dolar Amerika (XAU/USD) Tahun 2026
Reksa Dana
| Nama Reksa Dana | Jenis Reksa Dana | NAV | 1Bln | 3Bln | YTD | 1Th | 3Th | AUM |
| UOBAM Inovasi Obligasi Nasional | Pendapatan Tetap | 1,157.74 | 2.50% | 4.58% | 5.07% | 10.22% | 22.69% | 81.3M |
| Setiabudi Dana Pasar Uang | Pasar Uang | 1,620.38 | 0.39% | 1.20% | 2.08% | 5.21% | 16.81% | 573.2M |
| Cipta Saham Unggulan | Saham | 3,063.09 | -11.99% | -8.71% | -1.89% | 3.98% | 6.31% | 31.73M |
| Syailendra Balanced Opportunity Fund Kelas A | Campuran | 3,984.48 | -15.20% | -18.37% | -13.10% | 19.23% | 32.40% | 1.42T |
| Eastspring Syariah Greater China Equity USD Kelas A | USD | 0.93 | 3.11% | 22.35% | 23.63% | 48.81% | 48.59% | 9.66Jt |
Provided by Cermati Invest, last update 5 June 2026
Surat Utang/Obligasi
| NAMA OBLIGASI | ISIN | MATA UANG | KUPON | JATUH TEMPO | HARGA BELI | HARGA JUAL | YIELD | RATING |
| FR0103 | IDG000024506 | IDR | 6.75% | 15-Jul-35 | 99.25 | 98.25 | 6.86% | BBB |
| FR0088 | IDG000018201 | IDR | 6.25% | 15-Jun-36 | 95.5 | 94.5 | 6.88% | BBB |
| PBS005 | IDP000001505 | IDR | 6.75% | 15-Apr-43 | 100.25 | 99.25 | 6.72% | BBB |
| MBMA01BCN3 | IDA0001638B6 | IDR | 8.25% | 9-Dec-30 | 101 | 100 | 8.00% | idA |
| SMOPPM02BCN3 | IDJ0000407B8 | IDR | 8.50% | 4-Nov-30 | 101.5 | 100.5 | 8.12% | idA |
Provided by Cermati Invest, last update 5 June 2026
Kalender Ekonomi
- Pertumbuhan PDB Jepang Final Q1 2026.
- Cadangan Devisa Indonesia Mei 2026.
- Presiden melantik pejabat negara di Istana Negara, Jakarta Pusat.
- Konferensi pers Menteri Pertanian dan Wakil Menteri Pertanian terkait perkembangan harga TBS dan upaya stabilisasi harga TBS di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan.
- Menteri Perdagangan menghadiri acara HIPPINDO di Jakarta.
- Komisi XI DPR menggelar rapat dengar pendapat dengan PT KAI, PT INKA, PT PELNI, dan PT SMF terkait realisasi PMN tunai tahun 2025 di Ruang Rapat Komisi XI DPR, Gedung Nusantara III, Senayan, Jakarta Pusat.
- Menteri ESDM memimpin rapat pimpinan Kementerian ESDM di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta Pusat.
- Konferensi pers RUPS Tahunan TLKM tahun buku 2025 di Telkom Landmark Tower II, The Telkom Hub, Jakarta Selatan.
|
Corp. Action
|
Code | Cum Date | Exp Date | Rec Date | Start | End | Payment Date | Price | Note |
| Dividen | CTBN | 8-Jun-26 | 9-Jun-26 | 10-Jun-26 | 2-Jul-26 | 465 | FINAL | ||
| Dividen | MPMX | 8-Jun-26 | 9-Jun-26 | 10-Jun-26 | 25-Jun-26 | 170 | FINAL | ||
| Dividen | BUAH | 8-Jun-26 | 9-Jun-26 | 10-Jun-26 | 26-Jun-26 | 12.5 | FINAL | ||
| Dividen | JTPE | 9-Jun-26 | 10-Jun-26 | 11-Jun-26 | 26-Jun-26 | 31 | FINAL | ||
| Dividen | BLOG | 10-Jun-26 | 11-Jun-26 | 12-Jun-26 | 3-Jul-26 | 21 | FINAL | ||
| Dividen | INCO | 10-Jun-26 | 11-Jun-26 | 12-Jun-26 | 26-Jun-26 | US$0,00433 | FINAL | ||
| Dividen | SPTO | 10-Jun-26 | 11-Jun-26 | 12-Jun-26 | 24-Jun-26 | 35 | FINAL | ||
| Dividen | FISH | 11-Jun-26 | 12-Jun-26 | 15-Jun-26 | 3-Jul-26 | 14 | FINAL | ||
| Dividen | HRTA | 11-Jun-26 | 12-Jun-26 | 15-Jun-26 | 3-Jul-26 | 40 | FINAL | ||
| Dividen | PSAB | 11-Jun-26 | 12-Jun-26 | 15-Jun-26 | 30-Jun-26 | 105 | FINAL | ||
| Dividen | TOTO | 11-Jun-26 | 12-Jun-26 | 15-Jun-26 | 25-Jun-26 | 23 | FINAL | ||
| Dividen | ZONE | 11-Jun-26 | 12-Jun-26 | 15-Jun-26 | 26-Jun-26 | 12 | FINAL | ||
| Dividen | AMRT | 12-Jun-26 | 15-Jun-26 | 17-Jun-26 | 25-Jun-26 | 41.5 | FINAL | ||
| Dividen | MIDI | 12-Jun-26 | 15-Jun-26 | 17-Jun-26 | 25-Jun-26 | 11.85 | FINAL | ||
| Dividen | UNVR | 12-Jun-26 | 15-Jun-26 | 17-Jun-26 | 30-Jun-26 | 114 | FINAL | ||
| Dividen | BBCA | 15-Jun-26 | 17-Jun-26 | 18-Jun-26 | 26-Jun-26 | 20 | INTERIM | ||
| Dividen | MEDC | 15-Jun-26 | 17-Jun-26 | 18-Jun-26 | 3-Jul-26 | US$0.0018 | FINAL |
Source: BI, CNBC Indonesia, Bloomberg, Investing, Trading Economics, KSEI, Cermati, Artha Investa Teknologi (AIT), Stockwatch.id.
Disclaimer:
Dokumen ini dibuat hanya untuk memberikan informasi. Isi dokumen ini tidak boleh ditafsirkan sebagai suatu bentuk penawaran untuk membeli/menjual/dijadikan dasar dari atau yang dapat dijadikan pedoman sehubungan dengan suatu perjanjian atau komitmen apa pun atau suatu nasehat investasi.
Baca Juga Cermati Invest Weekly Update Sebelumnya: