Market Update IHSG & Saham Agustus 2026: Ada Apa Dengan IHSG?

Pada perdagangan Jumat (31 Juli 2026) ditutup menguat +0,80% ke level 6.236,13 dan mencatatkan kenaikan +0,64% dalam sepekan. Penguatan IHSG pekan lalu didominasi oleh dorongan akumulasi investor domestik. Walau asing membukukan net buy sebesar Rp262,8 miliar, tetapi secara keseluruhan sepanjang pekan lalu asing masih mencatatkan aksi net sell akumulatif sekitar Rp1,4 triliun.

Naiknya IHSG pada pekan lalu menorehkan support gap pada angka 6.186,36 yang berasal dari kenaikan 7 sektor pendukungnya. Hal ini menjadi potensi koreksi kedepannya, padahal sejak awal Juli 2026 IHSG dan seluruh sektor di dalamnya rebound, artinya saat pasar cenderung up trend menuju 6470, koreksi wajar dapat terjadi. Selanjutnya, jangan khawatir karena Agustus 2026 IHSG 6900.

Bagaimana dengan Saham ?

7 sektor yang berpotensi koreksi pekan ini adalah Industri Dasar, Siklikal, Energi, Kesehatan, Industri, Infrastruktur dan Teknologi. Jadikan kesempatan ini untuk cicil beli, terutama ketika IHSG turun menutup support gapnya. Ada potensi rebound pekan ini dari emiten ASGR, DSNG, ISAT, JSMR, MEDC, PGAS, SILO, SSIA, TLKM. Dan saham 3rd liners seperti APEX, BUMI, BNBR, BKSL, BIPI, JKON, TRIM.

Jangan lupa rencana aksi korporasi emiten untuk melakukan Rights issue seperti ENRG (rasio 2:1 di harga Rp310), VKTR (rasio 7:4 tetapi harga konversi hmetd masih menunggu prospectus final) dan BAJA (rasio 2:1 di harga Rp500). Konfirmasi persetujuan dan penetapan tanggalnya masih dalam proses. Jadi sesuaikan dengan modal dan risiko yang mampu diterima oleh Anda.

Rupiah Terhadap Dolar Amerika

Pekan lalu Rupiah menguat 0,3% mendekati kurs referensi JISDOR (Bank Indonesia) yang berada di posisi Rp18.078 per US$. Data Indeks DXY (US Dollar Index) dari 101,64 turun ke 99,8 dipicu sikap hati-hati pasar terhadap pernyataan kebijakan suku bunga The Fed.

Dari Indonesia Defisit perdagangan sebesar USD -0,45 miliar selama bulan Juni 2026, bergeser dari surplus USD 4,11 miliar pada bulan yang sama tahun lalu. Defisit ini adalah yang kedua dalam dua bulan terakhir, karena pertumbuhan impor melampaui pertumbuhan ekspor. Impor melonjak 34,27% yoy dan meningkat dari kenaikan 22,16% pada bulan sebelumnya, di tengah kenaikan harga minyak. Selain itu rilis data Inflasi tahunan bulan Juli 2026 turun menjadi 2,88% dari 3,34% pada periode sebelumnya. Jadi pekan ini Rupiah bergerak antara Rp17.825—Rp18.150. Biasanya jika rupiah menguat, harga saham bergerak naik.

Lalu, Bagaimana Dengan Reksa Dana ?

Apakah sudah boleh dibeli? Tentu! Berikut adalah beberapa saran dari Cermati Invest:

    • Reksa Dana Pasar Uang (RDPU): Liquidity & Safety, ideal untuk alokasi dana darurat dan porsi penampungan modal sementara di tengah fluktuasi indeks dan mata uang yang tinggi. 
    • Reksa Dana Pendapatan Tetap (RDPT): Moderate Growth & Yield Locking, berpotensi mengoptimalkan momentum kenaikan harga obligasi saat yield berada di puncaknya, memberikan potensi imbal hasil yang relatif stabil secara harian.

Reksa dana menarik dengan performa terbaik 1 bulan terakhir juga dapat dipantau ataupun dimiliki melalui Cermati Invest, seperti :

  1. Pasar Uang: Henan Ultima Money Market dan Sam Dana Kas
  2. Pendapatan Tetap: HPAM Pendapatan Tetap Prima dan Syailendra Pendapatan Tetap Premium Kelas A
  3. Saham: SAM Indonesian Equity Fund dan Bahana Primavera Plus
  4. Campuran: SAM Mutiara Nusantara Nusa Campuran Kelas A dan Trimegah Balanced Absolute Strategy Kelas A
  5. USD: STAR Fixed Income Dollar dan BRI G20 Sharia Equity Fund Dollar

Ingat ya, kinerja reksa dana di masa lalu bukan jaminan kinerja reksa dana di masa depan, jadi pilih yang terbaik dan sesuai dengan karakteristik ataupun tujuan investasi Anda.

Selanjutnya, Tanggal Penting Di Bulan Agustus yang Dapat Gerakan Market

Jumat, 07 Agustus 2026

  • 7:30 PM, AS - Upah non Pertanian (Non-Farm Payrolls) JUL, dan Tingkat Pengangguran JUL

Market akan melihat data tenaga kerja AS yang diperkirakan membaik pada Juli 2026, jumlah pekerjaan diproyeksi bertambah 79ribu, naik dari bulan sebelumnya yang hanya bertambah 57ribu. Selain itu, tingkat pengangguran diperkirakan stabil di 4,2%. NFP penting karena bisa menunjukkan apakah ekonomi AS masih kuat atau mulai melambat. Jika data rilis sesuai ekspektasi, maka artinya ekonomi AS masih cukup kuat, DXY (Dollar AS) dan Yield berpotensi menguat, sehingga The Fed punya alasan untuk lebih berhati-hati menurunkan suku bunga. Sebaliknya jika data NFP tidak sesuai ekspektasi, market global dapat melihat bahwa ekonomi AS kehilangan tenaga.

Rabu, 12 Agustus 2026

  • 7:30 PM, AS - CPI & Tingkat Inflasi

Fokus market tertuju pada data inflasi AS yang diperkirakan turun dari periode sebelumnya. CPI akan menjadi petunjuk apakah tekanan harga sudah benar-benar mereda atau masih tertahan. Kalau inflasi masih tinggi, market akan menilai bahwa The Fed belum bisa terlalu cepat melonggarkan kebijakan.

Kamis, 20 Agustus 2026

  • 1:00 AM, AS – Risalah FOMC Minutes

Market akan melihat isi dari pembahasan The Fed melalui FOMC minutes meeting, apakah sinyalnya hawkish atau mulai dovish. Bila sinyal Hawkish berarti bank sentral AS akan lebih ketat menjaga USD agar dapat menekan inflasi dengan menaikan suku bunga dan mengurangi jumlah uang beredar. Tetapi bila cenderung dovish, maka sikap bank sentral AS lebih longgar dengan menurunkan suku bunga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Rabu 26 Agustus 2026

  • 7:30 PM, Pertumbuhan GDP US

Market akan melihat data GDP AS. Penting untuk membaca apakah ekonomi AS masih kuat atau mulai kehilangan momentum, karena jika hasilnya kuat, maka USD bisa kembali mendapat dukungan. Sebaliknya jika data melemah, market bisa membaca peluang bahwa The Fed akan lebih longgar ke depan.