Cyber Attack: Kenali Bahaya Serangan Siber bagi Investor
Perkembangan teknologi digital membuat aktivitas investasi semakin mudah dilakukan. Kini, investor dapat membeli saham, reksa dana, obligasi, hingga aset keuangan digital melalui aplikasi dan platform online. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan risiko keamanan, salah satunya cyber attack atau serangan siber.
Cyber attack merupakan tindakan yang dilakukan untuk mengakses, mencuri, merusak, atau mengganggu sistem dan data digital tanpa izin. Serangan ini dapat menyasar perusahaan sekuritas, manajer investasi, platform perdagangan, maupun investor secara langsung.
Dampaknya tidak hanya berupa kebocoran data pribadi, tetapi juga pencurian dana, pengambilalihan akun investasi, hingga transaksi tanpa persetujuan pemilik akun. Oleh karena itu, investor perlu memahami jenis serangan siber dan cara melindungi aset investasinya.
Apa Itu Cyber Attack?
Cyber attack adalah serangan yang dilakukan melalui perangkat, jaringan, atau sistem digital dengan tujuan memperoleh akses tidak sah, mencuri informasi, mengganggu layanan, maupun merusak data.
Dalam dunia investasi, serangan siber dapat menargetkan informasi login, data identitas, nomor rekening, portofolio, hingga sistem transaksi investor. Pelaku dapat menggunakan berbagai metode, mulai dari mengirimkan tautan palsu hingga memanfaatkan celah keamanan pada perangkat atau platform investasi.
Serangan tersebut juga dapat dilakukan dengan menyamar sebagai perusahaan sekuritas, manajer investasi, atau pihak yang menawarkan layanan keuangan. Karena itu, investor perlu berhati-hati ketika menerima pesan atau permintaan informasi yang berkaitan dengan akun investasi.
Jenis Cyber Attack yang Perlu Diwaspadai Investor
Ada beberapa jenis serangan siber yang dapat mengancam keamanan akun dan aset investasi. Berikut penjelasannya.
1. Phishing
Phishing merupakan modus penipuan digital ketika pelaku menyamar sebagai pihak tepercaya untuk mencuri informasi pribadi atau kredensial akun.
Contohnya, investor menerima email atau pesan WhatsApp yang mengatasnamakan perusahaan sekuritas. Pesan tersebut meminta penerima memperbarui data akun melalui tautan tertentu.
Ketika tautan dibuka, korban diarahkan ke situs palsu yang menyerupai platform resmi. Informasi seperti username, password, PIN, dan kode OTP kemudian dapat dicuri untuk mengambil alih akun investasi.
2. Account Takeover
Account takeover adalah tindakan mengambil alih akun digital seseorang tanpa izin. Pelaku biasanya menggunakan informasi login yang berhasil dicuri melalui phishing, kebocoran data, atau metode lainnya.
Jika berhasil masuk ke akun investasi, pelaku berpotensi mengubah informasi pribadi, melakukan transaksi tanpa persetujuan, atau mencoba memindahkan dana ke rekening tertentu sesuai fitur dan mekanisme platform.
3. Data Breach
Data breach merupakan insiden ketika informasi pribadi atau data penting diakses dan tersebar tanpa izin.
Data yang bocor dapat mencakup nama lengkap, nomor identitas, alamat email, nomor telepon, hingga informasi akun investasi. Informasi tersebut berpotensi digunakan untuk penipuan yang lebih meyakinkan karena pelaku telah mengetahui identitas korbannya.
4. Malware
Malware adalah perangkat lunak berbahaya yang dapat masuk ke perangkat melalui aplikasi, file, atau tautan mencurigakan.
Jenis serangan ini dapat digunakan untuk mencuri informasi, memantau aktivitas perangkat, atau mengakses data yang tersimpan. Salah satu contohnya adalah aplikasi palsu yang dikirim dengan alasan membantu investor mengakses layanan investasi.
5. Ransomware
Ransomware merupakan jenis malware yang mengunci atau mengenkripsi data sehingga tidak dapat diakses oleh pemiliknya. Pelaku kemudian meminta tebusan agar data dapat dipulihkan.
Jika serangan terjadi pada perusahaan penyedia layanan investasi, sistem perdagangan atau layanan digital tertentu berpotensi mengalami gangguan.
5 Bahaya Cyber Attack bagi Investor
Serangan siber dapat menimbulkan berbagai risiko bagi investor, baik secara langsung maupun tidak langsung. Berikut lima dampak yang perlu diperhatikan.
1. Kehilangan Dana Investasi
Jika pelaku berhasil mengambil alih akun, mereka berpotensi melakukan transaksi atau mengakses fasilitas penarikan dana tanpa persetujuan pemilik akun. Hal ini dapat menyebabkan kerugian finansial.
2. Penyalahgunaan Identitas Pribadi
Data pribadi yang dicuri dapat digunakan untuk menyamar sebagai investor, membuat akun palsu, atau melakukan penipuan dengan mengatasnamakan korban.
3. Transaksi Investasi Tanpa Izin
Pelaku yang menguasai akun dapat melakukan pembelian atau penjualan aset tanpa sepengetahuan investor. Akibatnya, portofolio dapat berubah dan investor berisiko mengalami kerugian akibat transaksi yang tidak direncanakan.
4. Kebocoran Informasi Portofolio
Informasi mengenai kepemilikan aset, nilai investasi, dan riwayat transaksi merupakan data yang perlu dijaga kerahasiaannya. Jika tersebar, informasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk menyusun modus penipuan yang lebih spesifik.
5. Gangguan Aktivitas Investasi
Serangan siber terhadap penyedia layanan dapat mengganggu akses ke aplikasi atau sistem transaksi. Investor mungkin kesulitan memantau portofolio, melakukan transaksi, atau mendapatkan informasi terbaru selama gangguan berlangsung.
Cara Melindungi Akun Investasi dari Cyber Attack
Untuk mengurangi risiko serangan siber, investor perlu menerapkan kebiasaan keamanan digital berikut:
- Gunakan password yang kuat: Buat kata sandi unik untuk setiap akun investasi dan hindari menggunakan tanggal lahir atau informasi pribadi yang mudah ditebak.
- Aktifkan autentikasi multifaktor: Gunakan fitur verifikasi tambahan jika tersedia untuk memberikan lapisan keamanan pada akun.
- Jangan membagikan kode OTP dan PIN: Informasi tersebut bersifat rahasia dan tidak boleh diberikan kepada orang lain, termasuk pihak yang mengaku sebagai petugas layanan pelanggan.
- Gunakan aplikasi resmi: Unduh aplikasi investasi melalui toko aplikasi resmi dan pastikan nama pengembangnya sesuai.
- Hindari tautan mencurigakan: Jangan sembarangan membuka tautan atau mengunduh lampiran dari email dan pesan yang tidak terverifikasi.
- Periksa aktivitas akun: Pantau riwayat login, perubahan data, transaksi, dan notifikasi secara berkala.
- Gunakan jaringan internet yang aman: Hindari mengakses akun investasi melalui jaringan Wi-Fi publik yang tidak tepercaya.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Akun Investasi Diretas?
Jika menemukan aktivitas mencurigakan atau menduga akun investasi telah diretas, segera hubungi perusahaan sekuritas atau penyedia layanan investasi melalui kanal resminya. Minta bantuan untuk mengamankan atau membatasi akses akun sesuai prosedur yang tersedia.
Selanjutnya, ubah password akun yang terdampak dan akun email terkait menggunakan perangkat yang aman. Periksa riwayat transaksi serta simpan bukti berupa tangkapan layar, email, dan percakapan yang mencurigakan.
Jika terdapat transfer dana akibat penipuan, segera hubungi bank atau penyedia layanan pembayaran. Anda juga dapat melaporkan dugaan penipuan transaksi keuangan melalui Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) yang dikoordinasikan OJK, serta melapor kepada pihak kepolisian.
Bingung cari investasi reksa dana yang aman dan menguntungkan? Cermati Invest solusinya!
Lindungi Aset Investasi dengan Meningkatkan Keamanan Digital
Cyber attack merupakan ancaman yang perlu diperhatikan oleh setiap investor di era investasi digital. Serangan seperti phishing, account takeover, data breach, malware, dan ransomware dapat membahayakan akun, informasi pribadi, hingga aset investasi.
Untuk mengurangi risikonya, pastikan Anda menggunakan platform investasi resmi, menjaga kerahasiaan informasi login, mengaktifkan autentikasi multifaktor, serta memantau aktivitas akun secara berkala.