Mengenal Sistem Penjatahan Saham saat IPO dan Mekanismenya di Pasar Modal

Bagi Anda yang aktif membidik saham perdana di pasar modal, istilah penjatahan saham tentu sudah tidak asing lagi. Ketika perusahaan melangsungkan Initial Public Offering (IPO), mekanisme ini diberlakukan oleh penjamin emisi untuk mendistribusikan saham secara adil, proporsional, dan transparan, terutama saat terjadi lonjakan permintaan (oversubscribed).

Memahami sistem alokasi ini sangat krusial agar Anda dapat menyusun strategi pemesanan efek secara realistis melalui sistem e-IPO. Untuk mempersiapkan modal investasi Anda dengan optimal, simak pembahasan lengkap mengenai pengertian, alur mekanisme, hingga ilustrasi perhitungannya berikut ini.

Apa Penjatahan Saham saat IPO?

Penjatahan saham adalah sistem pada proses IPO yang dilakukan oleh perusahaan dengan membagi saham yang diterbitkannya pada investor yang tertarik untuk membeli. Proses tersebut menjamin bahwa saham perusahaan yang diterbitkan saat IPO tersedia untuk didistribusikan dengan adil ke investor yang sudah mengajukan permintaan. 

Perusahaan dan penjamin emisi akan mempertimbangkan tingkat permintaan saham yang masuk dari investor. Dengan begitu, mereka mampu menentukan alokasi distribusi saham yang nantinya ditawarkan ke investor saat IPO. 

Mekanisme Penjatahan Saham

Berdasarkan regulasi resmi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), mekanisme penjatahan saham penawaran umum perdana (IPO) di pasar modal Indonesia berjalan melalui ketentuan berikut:

  • Porsi alokasi investor ritel lebih luas
    Regulasi terbaru menetapkan porsi penjatahan terpusat bagi investor ritel hingga 50 persen dari total nilai emisi, membuka kesempatan berinvestasi yang jauh lebih inklusif dan merata di pasar perdana.
  • Penerapan sistem penjatahan terpusat
    Seluruh pesanan pemodal individu dihimpun dalam wadah pooling allotment untuk dibagi secara proporsional, disertai penyesuaian penambahan kuota otomatis ke kelompok ritel apabila terjadi lonjakan kelebihan permintaan (oversubscribed).
  • Pembatasan batas maksimal pemesanan
    OJK membatasi akumulasi pesanan setiap investor ritel maksimal 10 persen dari total nilai emisi saham yang diterbitkan demi mencegah dominasi pemodal besar serta menjaga keadilan distribusi saham.
  • Kewajiban saldo pada rekening dana nasabah
    Anda diwajibkan menyediakan saldo efektif yang mencukupi pada Rekening Dana Nasabah (RDN) selama masa penawaran berlangsung agar pesanan transaksi yang diajukan tidak gugur atau dibatalkan otomatis oleh sistem.
  • Integrasi pemesanan melalui sistem e-IPO
    Seluruh rangkaian proses mulai dari pengajuan pesanan, verifikasi dana, hingga penetapan jatah akhir diproses secara daring melalui platform terintegrasi e-IPO guna memastikan transparansi serta akuntabilitas distribusi efek.
  • Kebijakan pengembalian dana pemesanan
    Apabila Anda hanya memperoleh jatah sebagian akibat tingginya permintaan pasar, selisih sisa dana yang tidak terpakai akan otomatis dikembalikan utuh ke rekening RDN tanpa potongan biaya apa pun.

Ilustrasi Penjatahan Saham Perusahaan

Pada prosesnya, pelaksanaan penjatahan saham IPO mampu memengaruhi jumlah lembar saham yang Anda peroleh, khususnya jika terjadi lonjakan permintaan melebihi kuota (oversubscription). Untuk memahami alurnya secara menyeluruh, simak contoh ilustrasi kasus IPO Perusahaan A berikut:

Informasi IPO Perusahaan A:

  • Harga saham per lot: Rp1.000.000
  • Jumlah saham yang disediakan: 1.000.000 lot
  • Alokasi bagi investor ritel: 50 persen dari total saham (500.000 lot)
  • Kondisi pasar: Terjadi oversubscription hingga 300 kali lipat pada porsi ritel

Langkah 1, menghitung saham yang tersedia untuk investor ritel

Dari total 1.000.000 lot saham yang diterbitkan oleh Perusahaan A, porsi sebesar 50 persen atau setara 500.000 lot dialokasikan khusus untuk kelompok investor ritel. Namun, tingginya minat pasar membuat kuota ini tidak mencukupi untuk memenuhi seluruh volume pemesanan yang masuk.

Langkah 2, menghitung permintaan dari investor ritel

Permintaan saham dari kelompok investor ritel melonjak drastis hingga 300 kali lipat dari kuota yang disediakan. Dengan demikian, akumulasi permintaan yang tercatat dalam sistem adalah:

  • 500.000 lot x 300 = 150.000.000 lot.
    Karena pasokan yang tersedia tetap 500.000 lot, seluruh permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi secara penuh dan harus dibagi secara proporsional.

Langkah 3, pembagian saham secara proporsional

Sistem penjatahan terpusat (pooling allotment) akan membagi ketersediaan saham ritel secara proporsional berdasarkan perbandingan antara total alokasi dan total volume pesanan:

  • Alokasi saham untuk investor ritel: 500.000 lot
  • Jumlah permintaan dari investor ritel: 150.000.000 lot
    Maka, persentase penjatahan yang diterima oleh setiap pemesan adalah:
  • 500.000 lot / 150.000.000 lot = 0,00333 (setara 0,33 persen dari jumlah pesanan).

Langkah 4, menghitung jumlah saham yang didapatkan

Jika Anda mengajukan pemesanan sebanyak 100 lot dengan nilai modal Rp100.000.000, jumlah lembar saham yang Anda peroleh setelah perhitungan penjatahan adalah:

  • 100 lot x 0,33 persen = 0,33 lot.
    Mengingat distribusi efek di bursa wajib diserahkan dalam satuan lot utuh (1 lot = 100 lembar), hasil desimal ini tidak otomatis dibulatkan ke atas. Sistem e-IPO akan menjalankan mekanisme distribusi lanjutan untuk menetapkan apakah alokasi akhir Anda menjadi 0 atau 1 lot.

Langkah 5, pengembalian dana pemesanan (refund)

Apabila dari pesanan awal sebanyak 100 lot Anda pada akhirnya hanya memperoleh jatah 1 lot (Rp1.000.000), maka sisa dana untuk 99 lot yang tidak teralokasi (Rp99.000.000) akan langsung dikembalikan ke rekening RDN Anda. Proses refund otomatis ini umumnya diselesaikan dalam waktu 1 hari bursa setelah tanggal penetapan penjatahan resmi.

Pahami Sistem Penjatahan Saham Sebelum Membeli Saham saat IPO

Adanya sistem penjatahan saham saat IPO adalah upaya agar investor ritel mampu mendapat alokasi saham yang adil, khususnya saat terjadi oversubscription. Pasalnya, jika jumlah permintaan saham melebihi alokasi yang tersedia, sistem penjatahan tersebut mampu menentukan jumlah saham yang bisa dibagikan ke semua investor secara proporsional. Tenang saja, jika jumlah saham yang diperoleh kurang dari jumlah yang dipesan, ada proses refund yang menjamin modal kembali 100 persen yang dikirim langsung ke RDN investor.